31HariMenulis

"Aku Malu"

11:38 PM Tameila 0 Comments

Anak itu bernama Oki. Nama isyaratnya lucu, sayang gua nggak bisa menunjukkannya di sini. Pertama kali kenal dia asyik dengan BlackBerry-nya. “Dasar anak muda”, begitu pikir gua. Setelah gua berhasil mengalihkan perhatiannya, baru lah gua tau kalau Oki bukan tipe anak yang addict dengan BlackBerry. Dia cuma malu. Malu di antara orang-orang tuli.

Sore itu gelap. Gua sengaja duduk di sebelah Oki. Gua tau Oki agak jengah, tapi gua nggak peduli. Gua percaya, semakin dekat posisi gua dengannya, maka akan semakin mudah gua mendistruksi fokus BlackBerry-nya.

Luar biasa, ternyata dia anak yang cerdas.

Belajar isyarat dari mana?”

“Aku baca buku, mbak. Tebel banget.”

“Tapi paham?”

“Paham.”

“Ngobrol dengan Papa Mama gimana? Pakai isyarat?”

“Iya,” jawab Oki malu-malu.

Awalnya gua nggak ngerti kenapa Oki selalu ngehindar kalau gua lagi ngobrol dengan orangtuanya. Dia lebih memilih duduk di pojok atau menjauh, kemudian asyik dengan BlackBerry-nya. Barulah tadi gua paham kalau Oki malu punya orangtua yang tuli.

Itu mbak Gita, dia sekarang punya BlackBerry. Kalau ngobrol nggak pernah mau pakai isyarat. Dia bilang malu. Kita nggak boleh bersuara”, tutur Papanya.

Gua menatap Oki yang saat itu duduk di depan gua. Gua tau kalau dia tau apa yang diomongin bapaknya barusan.

Oki malu Papa Mama tuli?”

Oki nggak jawab. Dia cuma ketawa kecil, lalu mengangguk.

Kenapa Oki malu? Karena suara Papa Mama jelek?” tanya gua lagi.

Oki kini menunduk.

Kami suka sedih kalau Oki marah kita bersuara. Dia lebih pilih ngomong pakai BB”, sambung Mamanya.

Oki nggak boleh malu. Ini orangtua Oki. Kenapa malu berisyarat?” tanya gua.

Oki menggeleng.

Aneh, ya? Pasti teman-teman Oki bilang aneh. Ya, kan?”

Oki mengangguk.

"Oki sayang jangan begitu. Kalau Oki malu, nanti bagaimana bantu Papa Mama? Misal, Papa Mama sakit, tapi nggak ada yang paham isyarat. Kamu mau mereka pingsan?

Oki menggeleng.

Cuma Oki yang paham isyarat, jadi Oki lah yang membantu”,  gua menghela nafas, “harusnya Oki bangga punya orangtua tuli. Mana ada teman sekolah Oki yang bisa bahasa isyarat? Itu cuma Oki yang bisa”.

Oki diam. Dia ketawa kecil, lalu, “iya nggak apa-apa, Oki mau kok berisyarat”.

Saat itu juga tangan gua dicolek Mamanya, sambil berisyarat, “dia seperti nggak peduli dengan omongan kita. Banyak nakal. Banyak bohong. Makannya saya ajak ke sini untuk bisa tau dan berani teman-teman tuli bagaimana”.

Gua cuma senyum. Jujur gua speechless berhadapan dengan pasutri tuli ini. Buat gua mereka luar biasa. Punya dua anak, yang pertama hearing, si Oki, dan yang kedua tuli, namanya Dhea. Apa yang membuat mereka so incredible di mata gua? Mereka mampu mendidik keduanya, padahal gua tau susahnya ngomongin anak-anak. Tapi gua liat kesabaran si Ibu, dia terus ngajarin Oki dan Dhea dengan dua bahasa, isyarat dan oral.
Mbak Gita”, tangan gua dicolek lagi sama Ibunya, “saya tau kalau Oki suka dengan beat box itu”.

Kening gua berkerut.

Si Ibu bisa membaca keheranan di mata gua “lo-kan-tuli-kok-bisa-tau-anak-lo-suka-dengan-beat-box?”, karena dia melanjutkan, “saya lihat Oki bahagia waktu beat box pentas. Dia ketawa, dia merasa senang. Saya tau”.

Iya, mbak, di rumah dia latihan di depan kaca,” timpal Bapaknya, “kita emang nggak dengar, tapi saya tau saya lihat dia coba ikutin gaya mas-mas beat box di rumah. Saya senang dia begitu”.

Gua diam. Gua cuma senyum karena memang gua nggak tau harus ngomong apa. Di hadapan gua, mereka berdua tersenyum dan memandangi Oki. Saat itu juga gua rindu orangtua gua di rumah, khususnya nyokap. Gua kangen dengan nyokap yang sering bilang, “dek, tunggu jangan jalan buru-buru. Kaki ini sakit, tunggu pelan-pelan”. Saat itu juga gua merasa malu karena mikir kenapa gua punya nyokap yang jalan lama banget. Atau gua kangen bokap yang worry-nya menurut gua nggak wajar. Gua inget sampai teman-teman SMP gua bilang, “tuh liat si Gita, pacarnya itu bapaknya. Ngejagain terus. Awas, hati-hati”. Jujur, gua malu saat itu. Gua menganggap bokap gua possesif sehingga gua jadi bahan ejekan teman-teman.

And now?

Gua melihat sikap malu-malu Oki seperti sedang bercermin. Ada sebagian dari Oki yang ada di diri gua, atau sebaliknya. Perasaan-perasaan malu dengan kekurangan orangtua, entah secara fisik atau kebiasaan mereka. Kekurangan-kekurangan itulah yang membuat gua atau pun Oki kini diejek dengan teman-temannya. Dianggap aneh.

Tenang aja, mbak”, gua mengusap pundak Ibunya, “namanya juga masih kecil. Masih SMP toh? Nanti lama kelamaan dia belajar untuk nggak malu dan terbuka pikirannya” .

Pasangan suami istri itu mengangguk-angguk.

Dia pasti belajar kalau kekurangan orangtuanya akan menjadi sesuatu yang dirindukan ketika harus hidup pisah dan tidak lagi merasakan kerepotan itu. Seperti aku, mas mbak”, tambah gua dalam hati.

You Might Also Like

0 comments: