31HariMenulis
"Aku Malu"
Anak itu bernama Oki. Nama isyaratnya lucu, sayang gua nggak
bisa menunjukkannya di sini. Pertama kali kenal dia asyik dengan
BlackBerry-nya. “Dasar anak muda”,
begitu pikir gua. Setelah gua berhasil mengalihkan perhatiannya, baru lah gua
tau kalau Oki bukan tipe anak yang addict dengan BlackBerry. Dia cuma malu. Malu
di antara orang-orang tuli.
Sore itu gelap. Gua sengaja duduk di sebelah Oki. Gua tau
Oki agak jengah, tapi gua nggak peduli. Gua percaya, semakin dekat posisi gua
dengannya, maka akan semakin mudah gua mendistruksi fokus BlackBerry-nya.
Luar biasa, ternyata dia anak yang cerdas.
“Belajar isyarat dari
mana?”
“Aku baca buku, mbak. Tebel
banget.”
“Tapi paham?”
“Paham.”
“Ngobrol dengan Papa
Mama gimana? Pakai isyarat?”
“Iya,” jawab Oki
malu-malu.
Awalnya gua nggak ngerti kenapa Oki selalu ngehindar kalau
gua lagi ngobrol dengan orangtuanya. Dia lebih memilih duduk di pojok atau
menjauh, kemudian asyik dengan BlackBerry-nya. Barulah tadi gua paham kalau Oki
malu punya orangtua yang tuli.
“Itu mbak Gita, dia
sekarang punya BlackBerry. Kalau ngobrol nggak pernah mau pakai isyarat. Dia bilang
malu. Kita nggak boleh bersuara”, tutur Papanya.
Gua menatap Oki yang saat itu duduk di depan gua. Gua tau
kalau dia tau apa yang diomongin bapaknya barusan.
“Oki malu Papa Mama
tuli?”
Oki nggak jawab. Dia cuma ketawa kecil, lalu mengangguk.
“Kenapa Oki malu?
Karena suara Papa Mama jelek?” tanya gua lagi.
Oki kini menunduk.
“Kami suka sedih kalau
Oki marah kita bersuara. Dia lebih pilih ngomong pakai BB”, sambung Mamanya.
“Oki nggak boleh malu.
Ini orangtua Oki. Kenapa malu berisyarat?” tanya gua.
Oki menggeleng.
“Aneh, ya? Pasti
teman-teman Oki bilang aneh. Ya, kan?”
Oki mengangguk.
"Oki sayang jangan
begitu. Kalau Oki malu, nanti bagaimana bantu Papa Mama? Misal, Papa Mama
sakit, tapi nggak ada yang paham isyarat. Kamu mau mereka pingsan?”
Oki menggeleng.
“Cuma Oki yang paham
isyarat, jadi Oki lah yang membantu”, gua menghela nafas, “harusnya Oki bangga punya orangtua tuli. Mana ada teman sekolah Oki
yang bisa bahasa isyarat? Itu cuma Oki yang bisa”.
Oki diam. Dia ketawa kecil, lalu, “iya nggak apa-apa, Oki mau kok berisyarat”.
Saat itu juga tangan gua dicolek Mamanya, sambil berisyarat,
“dia seperti nggak peduli dengan omongan
kita. Banyak nakal. Banyak bohong. Makannya saya ajak ke sini untuk bisa tau
dan berani teman-teman tuli bagaimana”.
Gua cuma senyum. Jujur gua speechless berhadapan dengan
pasutri tuli ini. Buat gua mereka luar biasa. Punya dua anak, yang pertama
hearing, si Oki, dan yang kedua tuli, namanya Dhea. Apa yang membuat mereka so
incredible di mata gua? Mereka mampu mendidik keduanya, padahal gua tau
susahnya ngomongin anak-anak. Tapi gua liat kesabaran si Ibu, dia terus
ngajarin Oki dan Dhea dengan dua bahasa, isyarat dan oral.
“Mbak Gita”,
tangan gua dicolek lagi sama Ibunya, “saya
tau kalau Oki suka dengan beat box itu”.
Kening gua berkerut.
Si Ibu bisa membaca keheranan di mata gua “lo-kan-tuli-kok-bisa-tau-anak-lo-suka-dengan-beat-box?”,
karena dia melanjutkan, “saya lihat Oki
bahagia waktu beat box pentas. Dia ketawa, dia merasa senang. Saya tau”.
“Iya, mbak, di rumah
dia latihan di depan kaca,” timpal Bapaknya, “kita emang nggak dengar, tapi saya tau saya lihat dia coba ikutin gaya
mas-mas beat box di rumah. Saya senang dia begitu”.
Gua diam. Gua cuma senyum karena memang gua nggak tau harus
ngomong apa. Di hadapan gua, mereka berdua tersenyum dan memandangi Oki. Saat itu
juga gua rindu orangtua gua di rumah, khususnya nyokap. Gua kangen dengan
nyokap yang sering bilang, “dek, tunggu
jangan jalan buru-buru. Kaki ini sakit, tunggu pelan-pelan”. Saat itu juga
gua merasa malu karena mikir kenapa gua punya nyokap yang jalan lama banget. Atau
gua kangen bokap yang worry-nya menurut gua nggak wajar. Gua inget sampai
teman-teman SMP gua bilang, “tuh liat si
Gita, pacarnya itu bapaknya. Ngejagain terus. Awas, hati-hati”. Jujur, gua
malu saat itu. Gua menganggap bokap gua possesif sehingga gua jadi bahan ejekan
teman-teman.
And now?
Gua melihat sikap malu-malu Oki seperti sedang bercermin. Ada
sebagian dari Oki yang ada di diri gua, atau sebaliknya. Perasaan-perasaan malu
dengan kekurangan orangtua, entah secara fisik atau kebiasaan mereka. Kekurangan-kekurangan
itulah yang membuat gua atau pun Oki kini diejek dengan teman-temannya. Dianggap
aneh.
“Tenang aja, mbak”,
gua mengusap pundak Ibunya, “namanya juga
masih kecil. Masih SMP toh? Nanti lama kelamaan dia belajar untuk nggak malu
dan terbuka pikirannya” .
Pasangan suami istri itu mengangguk-angguk.
“Dia pasti belajar
kalau kekurangan orangtuanya akan menjadi sesuatu yang dirindukan ketika harus
hidup pisah dan tidak lagi merasakan kerepotan itu. Seperti aku, mas mbak”, tambah
gua dalam hati.
0 comments: