Loyality
Bisa dibilang bokap saya ini orang yang unik. Okay, lebih
tepatnya adalah konsumen yang unik. Dari kemarin hingga hari ini perjalanan ke
Ullen Sentalu, nyokap curhat abis – abisan tentang kelakuan bokap. Banyak sih,
tapi satu hal yang saya bisa simpulkan. Ya, doi adalah jenis konsumen yang bisa
menguji kesabaran pelayan.
Suatu hari
katanya nyokap dengan bokap harus adu mulut. Maklum lah karena di rumah mereka
tinggal berdua, jadi nggak ada teman diskusi lain. Nah, nyokap ini tipe orang
yang nggak mau repot. Selama birokrasi lancar dan tidak melanggar prosedur, itu
lah yang dipilih. Beda dengan bokap, dia orangnya mau tau segala detail. Kenapa
begini – kenapa begitu. Sifat keduanya nurun ke saya, makannya saya kalau mau
ngapa – ngapain nggak mau repot, tapi harus ada kejelasan.
Well,
back to the story. Saat itu bokap harus ngurus tagihan listrik yang bermasalah.
Jadi pernah suatu saat tagihan listrik rumah berapa juta gitu. Heran lah mereka
berdua kenapa tagihan segitu gedenya. Rumah kecil, bukan pabrik. Elektronik pun
nggak ada yang aneh – aneh. Setelah ditelusuri akhirnya ketemu biang keladinya.
Ternyata si abang pencatat listrik salah mencatat meter – an listrik. Saya nggak
tahu pastinya bagaimana, intinya orang tua saya harus mengurusi tagihan itu.
Si bokap
kalau di PLN ini punya pelayan favorit. Namanya Mbak Vita. Saya nggak ngerti
bentukkannya si mbak ini, tapi bokap nggak mau kalau dilayani dengan yang lain.
Saya tanya nyokap apakah si mbak itu cantik atau bagaimana. Nyokap bilang
alasan bokap hanya karena si mbak Vita adalah mbak yang tahu tagihan listrik
rumah biasanya berapa. Alhasil saat sampai di PLN bokap rela nunggu si mbak
Vita itu. Nyokap jelas aja nggak betah, selain karena memang nyokap tahu urusan
ini nggak harus dihandle mbak Vita, nyokap pikir juga nggak mau nunggu mbak
Vita lama – lama.
Lucunya,
saat mbak Vita datang bukannya si mbak bermuka manis malah jutek. Makin lah
kesal nyokap. Pulang dari sana nyokap marah – marah begini dengan bokap, “tuh kan lihat nggak mesti dengan si Vita. Pasti
semua pegawai itu bisa, nggak harus si Vita. Lihat tuh mukanya jutek gitu. Malu
tau !” Bokap ? Cuma diam.
Nah,
memang begitu lah bokap saya. Orangnya kalau udah suka sama satu hal atau
dengan satu orang, sampai kapan pun bakalan ke situ – situ aja. Ada kasus lain,
yaitu masalah air mineral. Bokap itu nggak pernah mau minum air mineral lain
kalau mereknya bukan Aqua. Iseng saya tanya alasannya simpel, “nggak tau kenapa air mineral buat papa itu
ya Aqua. Rasanya beda terus nggak enak gitu kalau bukan Aqua. Mending minum
teh.” See ? Kalau saya pemilik brand tertentu, senang banget punya konsumen
yang loya begini. Bukti keloyalannya adalah doi rela cari galon Aqua keliling
Serang waktu tempat langganannya kehabisan stok Aqua. See ? Loyal banget kan ?
Memang benar
kata nyokap, biar bagiamana tipe kayak bokap ini susah untuk ditemuin. Kalau udah
setia apa pun bakal dilakuin. Akan diberikan. Akan diusahakan. Senang sih punya
bokap kayak gini, tapi over protected.
Pernah suatu saat saya mau pawai Agustus – an. Jadi di daerah saya itu setiap
malam tanggal 16 Agustus pasti ada pawai anak – anak sekolahan. Saya perwakilan
dari SMP harus mengikuti pawai itu. Bokap saya setia banget lho nunggu di SMP
dari sore sampai jam 12 malam.
Kesetiaan
bokap lainnya adalah rela muter – muter Serang demi cari pulsa untuk kakak
saya. Jadi waktu itu kakak saya cari pulsa 10ribu dengan harga Rp10.500,-. As we
know harga umum pulsa 10ribu itu Rp11.000,-, bukan ? Nah, ini nggak tau
kesambet setan apa, kakak saya maksa mau yang harganya Rp10.500,-. For
anyshake, cuma beda gopek guys ! But guess bokap mau nganter kakak saya cari
penjual pulsa dengan harga segitu. Akhirnya dapat ? Dapat. Setelah 3 jam muter –
muter sampai ke pasar – pasar.
Kalau lagi
ingat – ingat kesetiaan bokap sama keluarganya gini jadi ngerasa bersalah
kenapa semalam cemberut ke bokap. Akhirnya tadi pagi saya menebus dosa dengan
jalan berdua dari Wisma Kagama sampai sunmor. Dari sunmor saya pun masih jalan
berdua dengan doi sekaligus jadi guide – nya. Bokap tanya ini – itu, bahkan
sampai kepada pertanyaan “dek kok banyak
pusat studi di UGM. Emang penelitiannya apa aja ?” saya jawab. Sumpah saya
jawab. Tak hanya itu, saya pun harus bersabar dengan petuah – petuahnya sepanjang
jalan. Klise sih, mulai dari penulisan skripsi sampai “udah dek buruan pulang ke Serang terus nikah”.
Beban ?
Jelas. Yang menjadi beban bukan nemenin doi jalan, tapi petuah – petuahnya itu.
Karena kalau dianalisis orientasi dan ekspetasi bokap dengan saya itu ada gap. Bokap
maunya apa, saya maunya apa. Jadilah sepanjang perjalanan saya lebih banyak
diam. Mengalah untuk menang. Lebih baik saya diam dan setia mendengarkan
ekspektasi – ekspektasinya kepada saya, ketimbang mendebatnya. Toh nggak ada
salahnya, semoga Tuhan menyelaraskan hati saya dengan hati doi. Atau mungkin
Tuhan lebih baik, dari diamnya saya bokap jadi lebih setia menunggu impian –
impiannya diwujudkan oleh saya selama saya secara egois mengedepankan obsesi
pribadi.
0 comments: