Nothing for Something

10:04 PM Tameila 0 Comments

Sebenarnya saya tidak tahu mau berkata apa karena hanya Allah yang tahu perasaan saya sekarang. Tidak dengan mama – papa. Tidak dengan semua teman saya. Bahkan tidak dengan saya sendiri. Apakah saya terlalu sibuk memperhatikan dunia hingga saya tidak lagi mengenali siapa saya ? Apakah saya terlalu berambisi dengan obsesi saya hingga saya tidak punya waktu lagi untuk merenung ? Tapi Allah masih berbaik hati dengan jiwa yang kumuh ini. Dengan kemurahan – Nya, Dia masih senantiasa menuangkan tetesan embun pada setiap hati yang gersang.

Hidup memang mengalir seperti air. Hidup memang rekayasa Tuhan. Hidup memang sandiwara. Bahkan dunia ini sementara. Jadi apalah bedanya kita hidup pada sebuah kepalsuan ? Apalah bedanya kalau kita sekarang bernafas pada kebohongan ? Suatu kefanaan yang toh pada hakikatnya bukan milik kita. Kita hidup tidak memiliki apa – apa karena semuanya adalah pinjaman. Palsu. Sementara. Semuanya akan ditarik kembali oleh Yang Maha Memiliki. Lalu untuk apa Tuhan menyerahkan ini semua pada kita ? Apakah ini bentuk kesombongan dari – Nya ?

Tuhan memang patut untuk sombong karena Dia lah pemilik apa pun yang kita lihat. Bahkan diri ini pun Dia yang punya. Damn ! Lama – lama saya merasa sangat miskin. Semakin lama saya larut pada pemikiran ini, semakin saya merasa hanya seonggok tanah yang akan kembali ke tanah. Saya merasa jadi tidak pantas menerima apa yang telah saya miliki sekarang. Semua anugerah. Kepintaran. Kemampuan. Bakat. Teman – teman. Keluarga. Pria yang mencintai saya. Kebahagiaan. Uang. Gadget. Status. Semua yang ada dalam hidup saya. Bahkan nyawa. Pantaskah saya menerima ini semua ?

Allah memang tidak pernah pamrih dengan apa yang telah Dia berikan kepada saya. Bahkan Dia pun tidak meminta kepada saya untuk sujud mencium tanah demi – Nya. Tidak ada saya pun Dia akan tetap kaya. Tidak ada saya pun Dia akan tetap sombong. Tidak ada saya pun Dia akan tetap menjadi Tuhan. Tidak ada saya pun Dia akan tetap agung. Lalu untuk apa Dia menciptakan saya dengan segala pemberiannya yang luar biasa ? Pernahkah kalian merenung untuk apa Tuhan menciptakan kalian ?

Kalau ada yang bilang manusia adalah khalifah Tuhan di bumi, itu memang benar. Tapi saya rasa Tuhan tidak butuh kita sebagai khalifahnya di bumi. Tuhan begitu kuat dan apapun yang diinginkan – Nya pasti akan terjadi. Kalau Tuhan semata – mata menciptakan kita untuk beribadah kepada – Nya, toh Tuhan pun akan tetap menjadi Tuhan meski kita tidak mengingat – Nya, bukan ? Think again ! Buat apa kita diberi nafas ?

Sejenak saya diam. Saya sadar kalau semua yang kita ketahui sebenarnya tidak benar – benar saya ketahui. Kalau saya tanya siapa kalian, bisakah kalian benar – benar mendeskripsikan secara detail dan lancar siapa kalian ? Tanpa terbata – bata. Tanpa “ee…” atau “hmm..” atau memutar bola mata. Kalau pun ada, seberapa yakin semua hal yang disebutkan itu benar – benar diri kalian ? Bahkan kita pun tidak tahu siapa diri kita sebenarnya. Kita mungkin kenal siapa diri kita, tapi seberapa tahu ?

Malam ini ada seorang teman wanita yang memberikan pelajaran kepada saya kalau hidup kita tidak ada apa – apanya. Pepatah di atas langit masih ada langit memang benar. Namun kebenaran itu hanya bisa dibuktikan bagi mereka yang sesekali mau melihat ke atas. Bukan yang terus melihat lurus ke depan. Bukan pula yang terus melihat ke bawah. Apa yang telah kita usahakan sebenarnya memang untuk kita sendiri tapi tidak patut untuk disombongkan. Apa yang kita raih memang untuk kita sendiri tapi tidak patut untuk dipamerkan.

Berdiam di sini bukan artinya menarik diri. Rela untuk diinjak – injak atau tidak berani berbicara. Tenanglah dengan apa yang telah diraih karena sebenarnya itu semua bukan apa – apa. Semuanya akan diambil lagi oleh Tuhan. Tugas kita hanya lah mencari permata di lautan kehidupan ini. Biarkan sinarnya mengenai diri kita tapi permatanya bukan untuk kita. Permatanya untuk Tuhan. Untuk Sang Maha Kaya yang sebenarnya akan tetap kaya tanpa permata itu. Lalu untuk apa kita mencarikan permata untuk – Nya ?

Jawabannya bukan untuk apa – apa karena sebenarnya kita lah yang membutuhkan sinar permata itu. Dari sinarnya, dunia dapat melihat diri kita yang berkilau. Dari pendarnya, alam sadar bahwa kita hidup di dunia ini. Dari kilaunya, jagat raya tahu kalau kita turut menyinari semaraknya galaksi ini. Namun kalau kita terlalu benderang, semua mata akan sakit menatap kita hingga akhirnya mereka malah memalingkan pandangannya. Maka biarlah manusia hanya menerima biasnya permata itu tanpa harus memilikinya secara utuh.

Allah mengajari saya dengan membuat saya merasa tidak bernilai. Terima kasih, Tuhan. Kau memang selalu punya cara untuk membuat kami kembali mengingat – Mu.

Yogyakarta.

You Might Also Like

0 comments: